WILI
“Kenapa gak kamu aja yang jawab?” tanyaku saat kelas sepi, saat
sebagian anak ke kantin untuk waktu istirahat.
“Maksudnya?” jawabnya singkat dan cukup jelas terdengar
karena hanya kami berdua di lorong kursi kami.
“Pak Iwan senang sekali sama Ari karena dia bisa jawab semua
pertanyaan quiz tadi, padahal semua jawaban itu dari kamu kan, wil?” tanyaku
dengan goda sedikit memaksa.
Tak ada jawaban, Ia hanya mengangkat kedua bahunya setelah
terdiam sedetik. Lalu pergi.
Cerita ini tentang dia. Anak lelaki yang duduk di kursi
paling kiri baris keempat. Tepat berhadapan dengan meja guru. Lorong itu memang
khusus untuk siswa lelaki di kelasku. Duduk semeja dengan temannya Ari yang
duduk tepat di depanku.
Setauku hanya Ari dan Aku yang benar-benar tahu kalau Wili
anak yang pintar. Selebihnya teman kelas kami juga tahu jika kebetulan menjadi
teman kelompok diskusi saat diminta guru. Sebagian lain tidak menyadari
kepintarannya. Kalau boleh ku bilang malah tidak perduli.
Rumah kami berseberangan, Dia pun jarang terlihat untuk
keluar rumahnya untuk bermain. Saat Ia keluar rumah, aku bisa menebak
tujuannya, Warung Wak Ning. Wili pergi untuk sekedar berbelanja telur, garam
atau kebutuhan kecil yang kebetulan sedang habis di rumahnya.
Sempat aku bertanya pada Bunda, “Bun, kenapa Wili jarang
keluar rumah, di sekolah juga sering diam, padahal aku tahu dia pintar loh,
Bu?”
“Karakter anak kan beda-beda, Sony. Kalau semua anak
karakternya kayak kamu, bisa susah para orangtua karena selalu ditanya ini-itu
sama anaknya.” Jawab Ibu sambil senyum lirik menggodaku.
Sebagian jiwaku menerima jawaban Ibu, sebagian lagi bertanya
dalam hati, “Apa salahnya jadi anak yang suka bertanya? Percuma dong. Bunda kan
Psikologs, masa’ sih gak tahu” pikir polosku yang masih kelas 7 ini.
Tentu ia tidak selalu begitu, Wili senang bermain sepak bola
di lapangan sekolah saat jam istirahat tiba. Posisi favoritnya adalah bek kiri,
terkadang Ia maju ke depan untuk sekedar membantu menyerang, namun lebih sering
bertahan seolah Ia lebih stakut gawang timnya kebobolan dibandingkan temannya
mencetak gol ke gawang lawan. Tak selalu ia ikut bermain, hanya jika tim
kekurangan pemain ataupun menggantikan temannya yang kelelahan.
Bukan. Bukan karena Wili tidak jago bermain bola, hanya saja
tentu seorang teman lebih senang mengajak teman dekatnya untuk bermain bersama.
Wili bukanlah ‘teman dekat’ bagi semua siswa di sana. Dia hanya anak yang
kurang mencolok, Dia seolah nyaman dengan itu.
Sungguh Wili anak yang jago di belakang layar. Tugas apapun
bisa diselesaikan dengan baik, bahkan tugas berkelompok dia bisa selesaikan
sendiri. Sering malah itu permintaan dia pada teman kelompoknya. Perjanjiannnya
adalah Wili mengerjakan seluruh tugas kelompok seorang diri tapi untuk
peresentasi harus dibawakan anggota kelompok yang lain. Sungguh peraturan yang
menyenangkan bagi teman kelompoknya karena tidak perlu repot untuk diskusi
kelompok ataupun berbagi tugas. Termasuk Aku.
Begitu pun, tak selalu semua sesuai ‘peraturan’nya itu. Wili
pernah pula harus berbicara di depan kelas atau sekedar menulis jawaban
Matematika di papan tulis saat dipinta guru. Sambil menutup matapun seluruh
siswa kelas 7B akan tahu bahwa yang sedang berbicara di depan kelas itu Wili,
rentetan kata yang keluar dari mulutnya bersamaan getaran grogi bak menghilangkan
setengah napasnya. Terengah Dia.
Aneh sekali kawan ini pikirku. Selidikku berlanjut kepada
Ari. Mungkin Ia tahu lebih banyak tentang Wili. Logikaku seperti biasa bekerja.
“Ri, kawanmu itu kok aneh sih?”
“Siapa?”
“Wili. Dia kan teman semejamu. Pasti kamu kenal dia lebih.”
Entah itu pertanyaan biasa atau agak memaksa mungkin.
Ari terdiam beberapa detik setelah pertanyaan itu
didengarnya. Bingung.
“Emang dia aneh kenapa?”
“Anehlah. Kau kan teman semejanya. Kok, gak merasa DIa aneh?”
Sedikit kesal di pertanyaan lanjutanku.
“Kebetulan aja kami satu meja. Kita kan siswa baru semua
awalnya. Lagian Dia biasa aja. Malahan aku senang nilaiku bagus karena duduk
sama Dia, sering dapat bisikan Kunci Jawaban.” Senyum girang tampak saat mengucapkan
lima kata terakhirnya.
“Justru karena itu. Kamu enak dianggap pinter sama guru.”
“Wili aja gak pernah marah kok. Kamu yang aneh, Son. Tapi iya
juga ya Si Wili aneh. Eh, entahlah.”
Waktu berjalan dengan pola yang sama di kelas kami.
Penasaranku tetap sama tentang Wili. Aku akan bertanya lagi.
“Bro, kamu kok gak mau baca pidatomu itu di depan?” membuka
percakapan. Sedapatnya karena sedang ada sesi pembuatan dan pembacaan pidato di
kelas Bahasa Indonesia bersama Bu Farida. Gilang sedang membacakan piatonya di
depan kelas menirukan Soekarno dengan improvisasi dengan beberapa kali cengengesan.
“Gak mau aja. Kamu pikir kenapa waktu Presiden pidato sambil
baca teks. Kamu pikir Presiden sendiri yang nulis. Untuk apa ditulisnya kalau
dia tahu harus bicara apa. Pasti orang lain yang tulis.” Gaya menjawab Wili
yang jarang sekali to the point.
“Gilang cocok jadi Presiden. Aku cocoknya jadi penulis teks
pidatonya. Kamu ya terserah mau jadi apa. Jadi microphone-nya pun gapapa.” Wili
menjawab dengan sedikit bumbu senyum di akhir kalimatnya.
“Haha…”
“Sony… Wili… dengarkan teman kalian berpidato ya!” Suara Bu
Farida mengakhiri percakapan yang entah keberapa kali tak memuaskanku itu.
Minggu pagi itu aku memilih duduk di teras depan rumahku
menghadap rumah Wili di ujung pandangan. Ditemani segelas teh manis panas
buatan Ibu di atas meja dan kursi kosong di sebelahnya.
“Kamu mikirin apa?” entah kapan kursi kosong itu ditempati
Bunda bersama gelas teh manis panasnya yang sejengkal dari punyaku.
“Wili, Bun. Aneh.”
“Haha, masih mikirin itu kamu ya. Fix kamu harus kuliah
Psikologi seperti Bunda ya. Kamu persis seperti Bunda dulu. begitu peduli
dengan orang lain.”
“Sony bahas tentang Wili loh, Bunda. Bukan tentang Sony yang
mirip Bunda apalagi kuliah, SMP aja baru satu semester.” Jawabku kesal.
“Kamu beneran mau tahu?”
Aku mengangguk serius.
“Entar ya, Ayah lagi goreng tahu tu buat sarapan kita.”
Kalimat selanjutnya yang berhasil meningkatkan level kesalku.
Begitulah cara keluarga kami berkomunikasi, saling lempar
kelakar walau terkadang receh. Apalagi kalau giliran Ayah. Kami biasa
mengomentarinya dengan berkata, ‘Jokes Bapak-bapak’. Itu cara kami mendekatkan
satu sama lain.
“Ingat gak Kamu, Ayah dan Bunda selalu ingatkan Kamu dan Dek
Ara untuk selalu bersyukur. Satu hal paling besar yang kalian harus syukuri
adalah keluarga.”
“Apa hubungannya dengan sikap anehnya si Wili?” tanyaku.
“Kamu pernah dengar cerita katak yang ditutup dalam wadah
selama seharian. Terus katak itu melompat mencoba keluar hingga akhirnya sang
katak menyerah karena tahu dia tidak akan melewati wadah tersebut.”
Aku mendengarkan serius seirama dengan uap panas dari tehku
yang semakin turun suhunya.
“Keesokan harinya wadah itupun dibuka namun Katak tetap saja
enggan untuk melompat. Pikirannya sudah terpaku bahwa selalu ada dinding
penghalang yang tak membiarkannya melompat jauh. Begitulah Wili.”
Aku tertarik dengan cerita Bunda walaupun masih belum paham
maksudnya. Tehku mulai ku seruput perlahan.
“Wili dan Kakaknya dibesarkan dengan suasana yang tertutup,
mereka sering disalahkan walau hanya karena tak sengaja menumpahkan minum,
selalu dikunci dengan kutukan ‘kata Ibu’ atau ‘kata Ayah’ mereka.”
“Bunda kok tahu?” Aku tak begitu saja percaya kepada Bunda
yang baru beberapa saat lalu mengocehku dengan kata ‘tahu’
“Bunda dan Ibunya Wili kan berteman sejak lama. Kamu aja yang
kebetulan satu sekolah dengan Wili baru sekarang.”
“Emangnya kalau gitu bisa buat orang jadi aneh ya Bun?”
“Aneh yang kamu maksud apa coba?” Bunda memastikan.
“Wili pintar tapi penakut.” Simpulku singkat tentang arti
aneh yang kumaksud.
“Nah, itu dia. Wili sudah seperti katak yang Bunda ceritakan
tadi. Sudah ada benteng yang menghalanginya bebas melompat.”
“Tidak Cuma itu, sejak lama orantua mereka sering bertengkar.
Hingga akhirnya semenjak akhir tahun lalu Ayah dan Ibunya berpisah. Bunda
kasihan sama mereka. Mereka anak-anak yang manis namun kurang beruntung.” Raut
wajah Bunda memudar di sepenggal akhir ceritanya.
“Sosial media Ibunya jadinya sering tentang sekedar curhat
atau bahkan sumpah serapah tentang kehidupannya.”
Bunda menyadari raut wajahku yang tak habis pikir dengan
ceritanya.
“Tapi kamu jangan berfikir berlebihan. Bunda hanya
menceritakan bagian yang menyebabkan teman kamu itu menjadi ‘aneh’ seperti yang
kamu bilang. Selebihnya keluarga mereka tetap seperti keluarga yang lain. Bunda
yakin tetap ada cinta diantara mereka, hanya saja bentuk pengungkapannya
berbeda dengan gaya keluarga kita yang suka ngelawak ini.” Bunda kembali
berkelakar setelah yakin Aku bisa mengambil pelajaran dari cerita itu. Tak
membiarkan anaknya larut dalam sedih milik orang lain. Bunda memang psikolog
yang hebat.
“Terima kasih ya Bun. Sony akan jadi teman yang labih
memahami Wili. Dan Sony bersyukur diberikan Tuhan keluarga yang menyenangkan
walaupun Ayah suka kasih ‘Jokes Bapak-bapak’.” Simpulku.
“Kamu bilangin Ayah gak lucu, ya? Ayok Bun kita sarapan
tahunya, Kamu jangan ikutan kalau gitu Sony!” dari balik pintu suara Ayah
memecah percakapan serius kami.
Tawa kami pun lepas mendengar itu. Entah bagian manaya yang
lucu, tapi kami bahagia. Terima kasih Tuhan.