Selasa, 14 September 2021

Koneksi Antar Materi, Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pada tulisan ini, saya akan coba menjabarkan bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil.

Pratap Triloka adalah konsep pemikiran yang digagas oleh Bapak Pendidikan Indonesia tersebut yang dapat kita amalkan dalam hal apapun termasuk dalam hal pendidikan. Ketiga konsep itu adalah 1) Ing ngarsa sung tulada; 2) Ing madya mangun karsa; 3) Tut wuri handayani. Dengan artian di depan sebagai teladan, di tengah menggerakkan, di belakang mendorong.

Dari ketiga konsep kedudukan tersebut, guru sebagai pemimpin pembelajaran diharapkan mampu mempertimbangkan posisi tersebut dalam penentuan keputusan terbaik yang akan diambil dan diuji.

Selanjutnya, nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita akan dapat berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Diri kita yang merupakan pribadi yang unik yang memiliki latar belakang pengetahuan, keterampilan, serta pengalaman bisa jadi akan mengambil keputusan yang berbeda dengan orang lain terutama dalam dilema etika yaitu pertentangan antara benar lawan benar. Terlebih kebijaksanaan tiap orang untuk dapat menentukan opsi trilema dari kasus dilema etika yang diterimanaya juga akan berpengaruh dengan keputusan akhir.

Tentang kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) pada pendidikan guru pengerak sebelumnya, saya merasa bahwa teknik tersebut dapat diterapkan dalam setia[ jengjang pendidikan dan usia anak dengan tingkatan yang disesuaikan terntunya.

Dalam hal tersebut, saya memiliki pertanyaan yaitu tentang bagaimana guru-guru di Indonesia dapat secara keseluruhan memahami dan mendalami pentingnya teknik coaching dalam pengembangan keterampilan mengambil keputusan oleh orang lain.

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik sangat menarik bagi saya karena sebagai seorang guru tentu tantangannya tidak hanya saat di ruang kelas untuk memimpin pembelajaran saja. Lebih dari itu, banyak keterampilan lain yang harus dimiliki dan diasah salah satunya yaitu pengambilan keputusan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Semakin baik dan terampil seorang guru memutuskan suatu permasalahan atas kasus yang sadar atau tidak akan selalu dihadapi oleh guru maka semakin baik pula budaya positif di kelas atau sekolah tersebut terwujud.

Selanjutnya, saya merasa tidak menemukan kesulitan-kesulitan di lingkungan saya sehingga sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini. Meskipun tentu butuh waktu untuk membiasakan budaya positif dan juga saling berbagi pengalaman dapat membantu mengatasi tantangan tersebut.

Dan pada akhirnya, pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita memiliki pengaruh. Yaitu bagaimana keputusan yang dipertimbangkan dengan baik terkait paradigma, prinsip berpikir, dan juga langkah pengambilan keputusan yang tentu bertujuan untuk memutuskan solusi terbaik atas setiap dilema etika yang muncul. Terutama terkait pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.

Dalam pengambilan keputusan tersebut, seorang pemimpin pembelajaran dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya. Saat dihadapkan dengan dilema etika yang jika diputuskan berdasarkan aturan namun akan berdampak pada masa depan murid, guru dapat mempertimbangkan hal tersebut sehingga dicarikan solusi terbaik dengan tetap memahamkan kepada murid bahwa yang dilakukannya adalah kekeliruan sehingga di waktu mendatang tidak diulanginya.

Sebagai penutup, kesimpulan akhir  yang dapat saya tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya adalah tentang tanggungjawab besar seorang pendidik yang tidak dapat dihindarkan akan menghadapi kasus-kasus dilema etika dalam menjalankan tugasnya. Dari materi-materi sebelumnya. modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran melengkapi peran dan tugas seorang guru dengan tujuan utama menuntun setiap kodrat anak agar dapat mengembangkan segala kodratnya sehingga menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang baik.

Syahridho zein, CGP Angkatan 2 Medan

Senin, 19 Juli 2021

2.1.a.9 Koneksi Antar Materi oleh Syahridho Zein - CGP Ankatan 2 Medan

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal yang dibuat oleh guru yang berorientasi pada kebutuhan murid.  Pembelajaran berdiferensiasi mengakomodir semua perbedaan yang ada di dalam diri peserta didik, yang dilihat dari kebutuhan belajar peserta didik. Pembelajran berdiferensiasi dilakukan dengan tiga strategi yaitu diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk yang dirancang erdasarkan tiga aspek yaitu kesiapan belajar, minat belajar, dan profil belajar.

Untuk menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, perlu diadakannya pemeetaan sebelumnya baik dengan cara observasi, pengisian kuisioner oleh peserta didik/orangtua, atau dengan pre-assessment sehingga guru memiliki peta jalan dalam merancang pembelajaran.

Contoh Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Minat

Tujuan Pembelajaran: Murid dapat menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat bulat.

Tabel 1. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Minat

Minat

Seni

IT

Bahasa

Nama Murid

Nadya

Queen

Abi

Samuel

Caryn

 

Produk

Membuat poster sifat-sifat operasi hitung bilangan berpangkat bulat.

Menjabarkan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat bulat dalam presentasi ppt atau infografis.

Mendemonstrasikan penyelesaian masalah yang berkaitan dengan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat bulat dalam video presentasi.

 Contoh Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar (Readiness)

Tujuan Pembelajaran: Murid dapat Mengubah masalah/bahasa sehari-hari ke dalam bentuk pangkat dan akar dan sebaliknya

Tabel 2. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Kesiapan Belajar

 

Kesiapan Belajar (Readiness)

Murid telah

memahami

konsep perpangkatan dan akar dan kaitannya keduanya

Murid telah

memahami

konsep perpangkatan dan akar secara terpisah namun belum memahami kaitannya keduanya

Murid belum

memahami

konsep perpangkatan dan akar.

Nama Murid

Caryn

Samuel

Abi

Queen

Nadya

Proses

Murid diminta

mengerjakan

soal-soal

tantangan yang

mengaplikasikan

pengubahan masalah/bahasa sehari-hari ke dalam bentuk pangkat dan akar dan sebaliknya. Murid

akan diminta

untuk bekerja

secara mandiri

dan saling

memeriksa

pekerjaan

masing-masing.

Murid diminta

mengerjakan

soal-soal

tantangan yang

mengaplikasikan

pengubahan masalah/bahasa sehari-hari ke dalam bentuk pangkat dan akar dan sebaliknya menggunakan permisalan dari contoh di kehidupan sehari-hari misal kaitan sisi dan luas persegi atau kaitan rusuk ddan volume kubus. Guru akan

sesekali datang

ke kelompok ini

untuk

memastikan

tidak ada

miskonsepsi.

Murid akan

mendapatkan

pembelajaran

eksplisit tentang

konsep perpangkatan dan akar.

Guru akan

memberikan

scaffolding

dalam proses

ini.

Contoh Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Profil Belajar murid

Tujuan Pembelajaran: murid dapat menyelesaikan permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan pangkat dan akar.

Tabel 3. Pemetaan Kebutuhan Belajar Berdasarkan Profil Belajar Murid

Profil Belajar

Visual

Auditori

Kinestetik

Nama Murid

Queen

Nadya

Abi

Samuel

Caryn

Produk

Murid diperbolehkan memilih cara mendemonstrasikan pemahaman mereka tentang permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan pangkat dan akar. Boleh dalam bentuk gambar, rekaman wawancara maupun performance.

Proses

Saat

menjelaskan

guru

menggunakan

banyak gambar

atau alat bantu

visual.

Guru juga

menyediakan

kesempatan

bagi murid

untuk

mengakses

sumber belajar

yang dapat

didengarkan

murid secara

lisan.

Guru membuat

beberapa sudut

belajar atau

display yang

ditempel di

tempat-tempat

berbeda untuk

memberikan

kesempatan

murid bergerak

saat mengakses

informasi.

Dari pemetaan tersebut, dituangkanlah dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk dijalankan di kelas.

Guru-guru akan menempatkan murid-muridnya untuk mengembangkan sikap-sikap dan praktik-praktik yang saling mendukung tumbuhnya lingkungan belajar. Dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi, guru menjadi tahu bagaimana menyusun pembelajaran yang selaras dengan mengoptimalkan potensi setiap peserta didik baik dalam hal kesiapan belajar, minat belajar, dan proses belajar.

Sebagai contoh anak yang minat dalam olahraga lari maka potensi utama tersebut yang perlu dikembangkan maksimal. Ia tetap akan menjadi anak yang berprestasi di bidangnya walaupun kemampuan seni atau matematikanya biasa saja. Anak yang gaya belajarnya kinestetik perlu difasilitasi untuk belajar dengan caranya agar menerima materi dengan maksimal, anak tipe ini tidak bisa dipaksakan untuk hanya duduk diam mendengarkan gurunya berbicara. Peserta didik yang dalam pertemuan lanjutan masih belum maksimal dalam pemahaman materi perlu adanya diferensiasi proses dengan peserta didik lain yang pemahamannya sudah sangat baik sebelum memberikan lembar kerja dengan level yang sama untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Modul 2.1 ini terkait erat dengan modul 1.1 Filosofi Pendidikan KHD di mana pada modul 1.1, kita dipahamkan tentang pembelajaran yang menghamba pada murid, cara agar kita dapat menghamba pada murid (pembelajaran yang berpusat pada murid) adalah dengan mengenal murid kita hinggga ke level kesiapan, minat, dan profil belajar tiap individu dengan dilakukannya pemetaan.

Juga terkait dengan modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak di mana dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang baik, guru harus melakukan perannya sebagai pemimpin pembelajaran yang baik pula dengan memiliki nilai reflektif, inovatif, serta berpihak pada murid.

Kamis, 01 Juli 2021

PGP-Angk2-Kota Medan-Syahridho Zein-1.4-Aksi Nyata

 

Aksi Nyata 1.4 Budaya Positif

 

§  Latar belakang tentang situasi yang dihadapi oleh Calon Guru Penggerak 

Latar belakang pemilihan budaya Bernalar Kritis sebagai budaya yang ingin saya angkat pada aksi nyata modul 1.4 ini adalah bawa hal tersebut merupakan salah satu fokus pengembangan keterampilan siswa sesuai pelajar pancasila yang digagas oleh kemendikbud dikti ristek.

Model pembelajaran pada pendidikan tingkat dasar saat ini tidak cukup hanya dibekali dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung atau “Tree Rs” (reading, writting, arithmetic), tetapi juga harus dibekali dengan kompetensi masyarakat global, yaitu komunikasi, kreatif, berpikir kritis, dan kolaborasi atau “Four Cs”(communicators, creators, critical thingkers, and collaborators) (NEA, 2012).

Dalam Framework 21st Century Skills, terdapat empat keterampilan, 4C keterampilan abad 21 yang di petakan sebagai kompetensi berpikir abad 21 yang terdiri dari, Creativity Thinking and innovation, Critical Thinking and Problem Solving, Communication, dan Collaboration.

Latar belakang lain mengingat siswa saya merupakan insan dengan potensi memiliki berbagai ketarampilan baik yang dibutuhkan untuk masa depan mereka maka saya berupaya membuat satu rancangan tindakan aksi nyata berkaitan dengan pengembangan bernalar kritis (critical thinking).

Sehingga harapannya dari aksi nyata ini kemampuan bernalar kritis siswa dapat meningkat.

§  Deskripsi Aksi Nyata yang dilakukan, berikut alasan mengapa melakukan aksi tersebut 

1. Mengajak sebanyak mungkin warga sekolah untuk terlibat dalam rancangan tindakan aksi nyata.

2. Menginisiasi diskusi perumusan tujuan budaya positif sekolah yang berdampak pada siswa terutama berkaitan budaya berpikir kritis.

3. Membuka diskusi dengan siswa tentang pentingnya budaya berpikir kritis serta kaitannya dengan kemampuan yang harus dimiliki di abad 21.

4. Membuat kesepakatan kelas bersama siswa tentang bagaimana cara meningkatkan budaya berpikir kritis dalam pembelajaran ataupun di luar pembelajaran

5. Merancang pembelajaran yang berfokus pada peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa

6. Menjadwalkan evaluasi untuk memetakan pencapaian perwujudan budaya berpikir kritis oleh siswa

7. Melakukan refleksi terhadap hasil evaluasi dan menuangkannya dalam program sekolah dan/atau rencana pembelajaran di pertemuan berikutnya

8. Penilaian/evaluasi aksi nyata berupa observasi dan kuisioner/angket

Alasan melakukan aksi tersebut adalah untuk upaya penerapan budaya positif yaitu bernalar kritis yan gdisertai juga dengan tahap evaluasi sebagai bahan refleksi.

§  Hasil dari Aksi Nyata yang dilakukan 

Agar mencapai tujuan peningkatan keterampilan bernalar kritis pada murid, perlu diimplementasikan melalui sebuah program. Salah satunya adalah yang sejalan dengan tujuan assessment dinas pendidikan yang menuntut bernalar kritis yaitu Asesmen Nasional (AN). Sekolah bekerjasama dengan pihak NUADU sebangai penyedia soal berbasis teknologi. Anak mengikuti AN bidang numerasi dan literasi yang menuntut siswa bernalar kritis tentang permasalahan yang ada di rangkaian pertanyaan tersebut.

Perasaan saya selama melakukan aksi nyata adalah senang karena dapat ambil bagian dalam penerapan budaya positif di sekolah.

§  Pembelajaran yang didapat dari pelaksanaan (kegagalan, keberhasilan, dan hal-hal yang tidak sesuai dengan rancangan aksi nyata)

Pembelajaran yang didapat dari aktifitas aksi nyata budaya positif yaitu pentingnya bernalar kritis sebagai keterampilan yang harus dimiliki siswa dalam menghadapi persaingan hidup pada masa kini dan masa depannya kelak ketika dewasa. Selanjutnya, informasi bahwa secara umum tingkat keterampilan bernalar kritis pelajar di Indonesia masih butuh ditingkatkan agar mampu bersaing secara global.

§  Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang

Selanjutnya, rencana perbaikan yaitu konsistensi penerapan pembelajaran yang mendorong siswa dalam meningkatan keterampilan bernalar kritis. Juga dalam model penilian yang menggunakan tingkat berpikir HOTS. Diperlukan juga kerjasama semua guru agar dapat memiliki semangat yang sama dalam penerapan budaya positif kemampuan bernalar kritis.

§  Dokumentasi proses dan hasil pelaksanaan berupa foto-foto berikut caption/narasi singkat nya. 




Foto di atas adalah gambaran bagaimana diskusi di kelas berjalan, siswa dibudayakan untuk mengemukakan pendapatnya tentang hal yang sedang dibahas baik dalam hal materi maupun informasi umum yang sedang berkembang. Dengan keterbukaan siswa dalam berpendapat, guru menuntun agar cara berpikir siswa menjadi lebih kritis sehingga dapat memberikan argument yang matang dan berdasarkan data berupa pengetahuan mereka.

Di atas merupakan laporan dari salah satu siswa mengenai kemampuan bernalar siswa yaitu di bidang literasi. Yaitu hasil dari pemahaman literasi siswa menggunakan penilaian dengan format Asesmen Nasional (AN).

Kamis, 17 September 2020

 

WILI

 

“Kenapa gak kamu aja yang jawab?” tanyaku saat kelas sepi, saat sebagian anak ke kantin untuk waktu istirahat.

“Maksudnya?” jawabnya singkat dan cukup jelas terdengar karena hanya kami berdua di lorong kursi kami.

“Pak Iwan senang sekali sama Ari karena dia bisa jawab semua pertanyaan quiz tadi, padahal semua jawaban itu dari kamu kan, wil?” tanyaku dengan goda sedikit memaksa.

Tak ada jawaban, Ia hanya mengangkat kedua bahunya setelah terdiam sedetik. Lalu pergi.

Cerita ini tentang dia. Anak lelaki yang duduk di kursi paling kiri baris keempat. Tepat berhadapan dengan meja guru. Lorong itu memang khusus untuk siswa lelaki di kelasku. Duduk semeja dengan temannya Ari yang duduk tepat di depanku.

Setauku hanya Ari dan Aku yang benar-benar tahu kalau Wili anak yang pintar. Selebihnya teman kelas kami juga tahu jika kebetulan menjadi teman kelompok diskusi saat diminta guru. Sebagian lain tidak menyadari kepintarannya. Kalau boleh ku bilang malah tidak perduli.

Rumah kami berseberangan, Dia pun jarang terlihat untuk keluar rumahnya untuk bermain. Saat Ia keluar rumah, aku bisa menebak tujuannya, Warung Wak Ning. Wili pergi untuk sekedar berbelanja telur, garam atau kebutuhan kecil yang kebetulan sedang habis di rumahnya.

Sempat aku bertanya pada Bunda, “Bun, kenapa Wili jarang keluar rumah, di sekolah juga sering diam, padahal aku tahu dia pintar loh, Bu?”

“Karakter anak kan beda-beda, Sony. Kalau semua anak karakternya kayak kamu, bisa susah para orangtua karena selalu ditanya ini-itu sama anaknya.” Jawab Ibu sambil senyum lirik menggodaku.

Sebagian jiwaku menerima jawaban Ibu, sebagian lagi bertanya dalam hati, “Apa salahnya jadi anak yang suka bertanya? Percuma dong. Bunda kan Psikologs, masa’ sih gak tahu” pikir polosku yang masih kelas 7 ini.

Tentu ia tidak selalu begitu, Wili senang bermain sepak bola di lapangan sekolah saat jam istirahat tiba. Posisi favoritnya adalah bek kiri, terkadang Ia maju ke depan untuk sekedar membantu menyerang, namun lebih sering bertahan seolah Ia lebih stakut gawang timnya kebobolan dibandingkan temannya mencetak gol ke gawang lawan. Tak selalu ia ikut bermain, hanya jika tim kekurangan pemain ataupun menggantikan temannya yang kelelahan.

Bukan. Bukan karena Wili tidak jago bermain bola, hanya saja tentu seorang teman lebih senang mengajak teman dekatnya untuk bermain bersama. Wili bukanlah ‘teman dekat’ bagi semua siswa di sana. Dia hanya anak yang kurang mencolok, Dia seolah nyaman dengan itu.

Sungguh Wili anak yang jago di belakang layar. Tugas apapun bisa diselesaikan dengan baik, bahkan tugas berkelompok dia bisa selesaikan sendiri. Sering malah itu permintaan dia pada teman kelompoknya. Perjanjiannnya adalah Wili mengerjakan seluruh tugas kelompok seorang diri tapi untuk peresentasi harus dibawakan anggota kelompok yang lain. Sungguh peraturan yang menyenangkan bagi teman kelompoknya karena tidak perlu repot untuk diskusi kelompok ataupun berbagi tugas. Termasuk Aku.

Begitu pun, tak selalu semua sesuai ‘peraturan’nya itu. Wili pernah pula harus berbicara di depan kelas atau sekedar menulis jawaban Matematika di papan tulis saat dipinta guru. Sambil menutup matapun seluruh siswa kelas 7B akan tahu bahwa yang sedang berbicara di depan kelas itu Wili, rentetan kata yang keluar dari mulutnya bersamaan getaran grogi bak menghilangkan setengah napasnya. Terengah Dia.

Aneh sekali kawan ini pikirku. Selidikku berlanjut kepada Ari. Mungkin Ia tahu lebih banyak tentang Wili. Logikaku seperti biasa bekerja.

“Ri, kawanmu itu kok aneh sih?”

“Siapa?”

“Wili. Dia kan teman semejamu. Pasti kamu kenal dia lebih.” Entah itu pertanyaan biasa atau agak memaksa mungkin.

Ari terdiam beberapa detik setelah pertanyaan itu didengarnya. Bingung.

“Emang dia aneh kenapa?”

“Anehlah. Kau kan teman semejanya. Kok, gak merasa DIa aneh?” Sedikit kesal di pertanyaan lanjutanku.

“Kebetulan aja kami satu meja. Kita kan siswa baru semua awalnya. Lagian Dia biasa aja. Malahan aku senang nilaiku bagus karena duduk sama Dia, sering dapat bisikan Kunci Jawaban.” Senyum girang tampak saat mengucapkan lima kata terakhirnya.

“Justru karena itu. Kamu enak dianggap pinter sama guru.”

“Wili aja gak pernah marah kok. Kamu yang aneh, Son. Tapi iya juga ya Si Wili aneh. Eh, entahlah.”

Waktu berjalan dengan pola yang sama di kelas kami. Penasaranku tetap sama tentang Wili. Aku akan bertanya lagi.

“Bro, kamu kok gak mau baca pidatomu itu di depan?” membuka percakapan. Sedapatnya karena sedang ada sesi pembuatan dan pembacaan pidato di kelas Bahasa Indonesia bersama Bu Farida. Gilang sedang membacakan piatonya di depan kelas menirukan Soekarno dengan improvisasi dengan beberapa kali cengengesan.

“Gak mau aja. Kamu pikir kenapa waktu Presiden pidato sambil baca teks. Kamu pikir Presiden sendiri yang nulis. Untuk apa ditulisnya kalau dia tahu harus bicara apa. Pasti orang lain yang tulis.” Gaya menjawab Wili yang jarang sekali to the point.

“Gilang cocok jadi Presiden. Aku cocoknya jadi penulis teks pidatonya. Kamu ya terserah mau jadi apa. Jadi microphone-nya pun gapapa.” Wili menjawab dengan sedikit bumbu senyum di akhir kalimatnya.

“Haha…”

“Sony… Wili… dengarkan teman kalian berpidato ya!” Suara Bu Farida mengakhiri percakapan yang entah keberapa kali tak memuaskanku itu.

Minggu pagi itu aku memilih duduk di teras depan rumahku menghadap rumah Wili di ujung pandangan. Ditemani segelas teh manis panas buatan Ibu di atas meja dan kursi kosong di sebelahnya.

“Kamu mikirin apa?” entah kapan kursi kosong itu ditempati Bunda bersama gelas teh manis panasnya yang sejengkal dari punyaku.

“Wili, Bun. Aneh.”

“Haha, masih mikirin itu kamu ya. Fix kamu harus kuliah Psikologi seperti Bunda ya. Kamu persis seperti Bunda dulu. begitu peduli dengan orang lain.”

“Sony bahas tentang Wili loh, Bunda. Bukan tentang Sony yang mirip Bunda apalagi kuliah, SMP aja baru satu semester.” Jawabku kesal.

“Kamu beneran mau tahu?”

Aku mengangguk serius.

“Entar ya, Ayah lagi goreng tahu tu buat sarapan kita.” Kalimat selanjutnya yang berhasil meningkatkan level kesalku.

Begitulah cara keluarga kami berkomunikasi, saling lempar kelakar walau terkadang receh. Apalagi kalau giliran Ayah. Kami biasa mengomentarinya dengan berkata, ‘Jokes Bapak-bapak’. Itu cara kami mendekatkan satu sama lain.

“Ingat gak Kamu, Ayah dan Bunda selalu ingatkan Kamu dan Dek Ara untuk selalu bersyukur. Satu hal paling besar yang kalian harus syukuri adalah keluarga.”

“Apa hubungannya dengan sikap anehnya si Wili?” tanyaku.

“Kamu pernah dengar cerita katak yang ditutup dalam wadah selama seharian. Terus katak itu melompat mencoba keluar hingga akhirnya sang katak menyerah karena tahu dia tidak akan melewati wadah tersebut.”

Aku mendengarkan serius seirama dengan uap panas dari tehku yang semakin turun suhunya.

“Keesokan harinya wadah itupun dibuka namun Katak tetap saja enggan untuk melompat. Pikirannya sudah terpaku bahwa selalu ada dinding penghalang yang tak membiarkannya melompat jauh. Begitulah Wili.”

Aku tertarik dengan cerita Bunda walaupun masih belum paham maksudnya. Tehku mulai ku seruput perlahan.

“Wili dan Kakaknya dibesarkan dengan suasana yang tertutup, mereka sering disalahkan walau hanya karena tak sengaja menumpahkan minum, selalu dikunci dengan kutukan ‘kata Ibu’ atau ‘kata Ayah’ mereka.”

“Bunda kok tahu?” Aku tak begitu saja percaya kepada Bunda yang baru beberapa saat lalu mengocehku dengan kata ‘tahu’

“Bunda dan Ibunya Wili kan berteman sejak lama. Kamu aja yang kebetulan satu sekolah dengan Wili baru sekarang.”

“Emangnya kalau gitu bisa buat orang jadi aneh ya Bun?”

“Aneh yang kamu maksud apa coba?” Bunda memastikan.

“Wili pintar tapi penakut.” Simpulku singkat tentang arti aneh yang kumaksud.

“Nah, itu dia. Wili sudah seperti katak yang Bunda ceritakan tadi. Sudah ada benteng yang menghalanginya bebas melompat.”

“Tidak Cuma itu, sejak lama orantua mereka sering bertengkar. Hingga akhirnya semenjak akhir tahun lalu Ayah dan Ibunya berpisah. Bunda kasihan sama mereka. Mereka anak-anak yang manis namun kurang beruntung.” Raut wajah Bunda memudar di sepenggal akhir ceritanya.

“Sosial media Ibunya jadinya sering tentang sekedar curhat atau bahkan sumpah serapah tentang kehidupannya.”

Bunda menyadari raut wajahku yang tak habis pikir dengan ceritanya.

“Tapi kamu jangan berfikir berlebihan. Bunda hanya menceritakan bagian yang menyebabkan teman kamu itu menjadi ‘aneh’ seperti yang kamu bilang. Selebihnya keluarga mereka tetap seperti keluarga yang lain. Bunda yakin tetap ada cinta diantara mereka, hanya saja bentuk pengungkapannya berbeda dengan gaya keluarga kita yang suka ngelawak ini.” Bunda kembali berkelakar setelah yakin Aku bisa mengambil pelajaran dari cerita itu. Tak membiarkan anaknya larut dalam sedih milik orang lain. Bunda memang psikolog yang hebat.

“Terima kasih ya Bun. Sony akan jadi teman yang labih memahami Wili. Dan Sony bersyukur diberikan Tuhan keluarga yang menyenangkan walaupun Ayah suka kasih ‘Jokes Bapak-bapak’.” Simpulku.

“Kamu bilangin Ayah gak lucu, ya? Ayok Bun kita sarapan tahunya, Kamu jangan ikutan kalau gitu Sony!” dari balik pintu suara Ayah memecah percakapan serius kami.

Tawa kami pun lepas mendengar itu. Entah bagian manaya yang lucu, tapi kami bahagia. Terima kasih Tuhan.